Apa itu biomarker?



Biomarker adalah perubahan terukur pada sel kanker, yang seringkali melibatkan gen atau protein spesifik. Biomarker ini dapat ditemukan di berbagai bagian tubuh, termasuk darah, jaringan normal, atau di dalam tumor itu sendiri. Biomarker memberikan wawasan berharga tentang karakteristik kanker yang sudah diderita seseorang atau menunjukkan risiko mereka terkena kanker di masa mendatang. Dokter menggunakan biomarker ini untuk mengidentifikasi pengobatan yang paling efektif, menyesuaikan terapi untuk masing-masing pasien, dan terkadang mengambil tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko kanker.

Bagaimana biomarker digunakan?

Biomarker dapat memainkan peran penting dalam perjalanan medis Anda, mulai dari penilaian risiko awal hingga diagnosis, perencanaan perawatan, dan pemantauan kekambuhan. Tes-tes ini dapat memberikan wawasan berharga di berbagai tahap perawatan Anda, membantu Anda dan dokter Anda membuat keputusan yang tepat dan sesuai dengan kondisi spesifik Anda. Memahami bagaimana biomarker ini digunakan dapat membantu Anda menavigasi perawatan dan langkah-langkah tim perawatan kesehatan Anda dengan lebih baik dalam mengelola kanker Anda.

Memperkirakan risiko kanker

Uji biomarker yang memperkirakan risiko terkena kanker sering dilakukan pada individu dengan riwayat keluarga kanker atau kondisi genetik yang diketahui meningkatkan risiko kanker. Misalnya, uji mutasi BRCA1 atau BRCA2 dapat dilakukan pada seseorang dengan riwayat keluarga kanker payudara atau ovarium. Jika mutasi ditemukan, informasi ini dapat mengarah pada peningkatan pengawasan, seperti pemeriksaan mammogram atau pemindaian MRI yang lebih sering, atau tindakan pencegahan seperti operasi profilaksis untuk mengangkat jaringan payudara atau ovarium. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko terkena kanker atau mendeteksinya pada tahap awal yang lebih mudah diobati.

Penyaringan

Tes skrining biomarker mendeteksi kanker pada tahap awal sebelum gejala muncul. Contoh umum adalah tes PSA (antigen spesifik prostat) yang digunakan untuk skrining kanker prostat pada pria. Tes ini dapat dilakukan secara rutin pada pria di atas usia tertentu atau pada mereka yang memiliki faktor risiko kanker prostat. Kadar PSA yang tinggi dapat menyebabkan pemeriksaan lebih lanjut, seperti biopsi, untuk menentukan keberadaan kanker. Deteksi dini melalui skrining dapat mengarah pada pengobatan yang lebih dini, yang berpotensi meningkatkan hasil.

Perbedaan diagnosa

Bila pasien menderita tumor, tes biomarker dapat membantu menentukan jenis kanker yang tepat, terutama bila kanker tampak serupa di bawah mikroskop. Misalnya, jika pasien menderita tumor, limfoma, imunohistokimia mungkin dilakukan untuk mendeteksi CD20, suatu protein yang diekspresikan pada permukaan sel limfoma spesifik. Hasilnya dapat membantu membedakan berbagai jenis limfoma, yang sangat penting karena jenis lain mungkin memerlukan perawatan yang berbeda. Diagnosis yang akurat memastikan pasien menerima perawatan yang paling tepat.

Menentukan prognosis suatu penyakit

Tes biomarker dapat memberikan informasi tentang agresivitas kanker dan kemungkinan hasilnya. Misalnya, Tes Ki-67, penanda proliferasi sel, mungkin dilakukan pada sampel tumor. Kadar Ki-67 yang tinggi menunjukkan bahwa sel kanker membelah dengan cepat, menunjukkan tumor yang lebih agresif dengan risiko penyebaran yang lebih tinggi. Informasi ini dapat membantu dokter menentukan seberapa intensif kanker harus ditangani, misalnya apakah pasien mungkin mendapat manfaat dari kemoterapi yang lebih agresif.

Memprediksi respons terhadap perawatan tertentu

Tes biomarker spesifik memprediksi seberapa baik kanker dapat merespons pengobatan tertentu. Misalnya, pengujian mutasi pada gen EGFR dapat dilakukan pada pasien kanker paru-paru. Jika mutasi EGFR ditemukan, pasien dapat diobati dengan terapi target seperti erlotinib, yang dirancang khusus untuk menghambat aktivitas protein yang bermutasi. Pendekatan ini dapat lebih efektif dan kurang toksik dibandingkan kemoterapi tradisional karena menargetkan sel kanker secara lebih tepat.

Pemantauan kekambuhan penyakit

Setelah pasien menyelesaikan perawatan, tes biomarker dapat digunakan untuk memantau tanda-tanda kekambuhan kanker. Misalnya, pasien yang dirawat karena kanker ovarium mungkin akan menjalani tes darah rutin untuk mengukur kadar CA-125, suatu protein yang dapat meningkat ketika kanker sudah ada. Jika kadar CA-125 mulai meningkat, hal ini dapat mengindikasikan kekambuhan tumor, yang mendorong dilakukannya tes lebih lanjut atau perubahan strategi pengobatan.

Pemantauan penyakit metastasis

Pada pasien dengan kanker yang diketahui, tes biomarker dapat membantu melacak perkembangan penyakit ke bagian tubuh lainnya. Misalnya, kadar CEA (antigen karsinoembrionik) dapat dipantau dari waktu ke waktu pada pasien kanker kolorektal. Jika kadar CEA meningkat, hal ini dapat mengindikasikan bahwa kanker telah menyebar ke organ lain, seperti hati atau paru-paru. Informasi ini dapat memandu keputusan untuk melakukan tes pencitraan tambahan atau mengubah rencana perawatan untuk mengatasi metastasis penyakit.

Stratifikasi risiko

Tes biomarker juga dapat membantu mengklasifikasikan pasien ke dalam kelompok risiko, sehingga memandu keputusan pengobatan. Misalnya, PD-L1 Tes ekspresi dapat dilakukan pada kanker paru-paru. Pasien dengan ekspresi PD-L1 yang tinggi mungkin lebih mungkin merespons obat imunoterapi seperti pembrolizumab. Mengetahui status PD-L1 pasien dapat membantu dokter memutuskan apakah akan memasukkan imunoterapi dalam rencana perawatan, yang berpotensi meningkatkan peluang keberhasilan pasien.

Apakah biomarker sama dengan pengobatan presisi?

Biomarker dan pengobatan presisi memang berkaitan erat, tetapi tidak sama. Pengobatan presisi adalah metode untuk menyesuaikan perawatan dengan karakteristik individu setiap pasien, yang seringkali melibatkan penggunaan biomarker kanker. Meskipun biomarker memberikan informasi spesifik tentang kanker, pengobatan presisi menggunakan informasi ini untuk menyusun rencana perawatan yang kemungkinan besar lebih efektif bagi pasien tersebut.

Apakah semua laporan kanker menyertakan biomarker?

Tidak semua laporan kanker akan menyertakan informasi tentang biomarker. Apakah biomarker disertakan dalam laporan Anda bergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis kanker yang Anda derita, stadium penyakit, dan rencana perawatan khusus yang sedang dipertimbangkan. Dalam beberapa kasus, terutama untuk kanker stadium awal atau kanker yang diobati dengan pembedahan saja, pengujian biomarker mungkin tidak diperlukan. Namun, pengujian biomarker dapat menjadi penting dalam memandu keputusan perawatan untuk kanker lain, terutama yang lebih lanjut atau memiliki karakteristik khusus. Dokter Anda akan menentukan apakah pengujian biomarker sesuai berdasarkan kasus Anda.

Bagaimana pengujian biomarker dilakukan?

Terdapat beberapa tes yang tersedia untuk mengidentifikasi biomarker, masing-masing sesuai untuk jenis kanker tertentu dan biomarker spesifik yang sedang dinilai. Pilihan tes untuk kasus Anda akan bergantung pada jenis kanker yang Anda derita dan informasi yang dibutuhkan dokter Anda untuk memandu perawatan Anda. Memahami berbagai metode pengujian dapat membantu Anda lebih memahami bagaimana tim kesehatan Anda bekerja untuk memberikan diagnosis yang paling akurat dan rencana perawatan yang efektif.

Imunohistokimia (IHC)

Imunohistokimia adalah teknik yang menggunakan antibodi untuk mendeteksi protein tertentu dalam sampel jaringan. Sampel tumor kecil diobati dengan antibodi yang mengikat protein target, dan perubahan warna menunjukkan keberadaan protein tersebut. Tes ini sering dipilih karena memungkinkan dokter untuk melihat dengan tepat di mana protein berada di dalam jaringan, yang dapat menjadi penting untuk mendiagnosis jenis kanker tertentu. Misalnya, IHC dapat digunakan untuk mendeteksi reseptor estrogen (ER) Ekspresi protein pada kanker payudara, membantu menentukan apakah tumor ER-positif dan kemungkinan merespons terapi hormon. Dalam laporan patologi, hasil tes IHC biasanya digambarkan positif atau negatif, dan dapat disertai persentase yang menunjukkan proporsi sel yang mengekspresikan protein tersebut.

Hibridisasi fluoresensi in situ (FISH)

IKAN adalah teknik yang mendeteksi urutan DNA spesifik di dalam sel menggunakan probe fluoresen yang mengikat urutan tersebut. Tes ini sering dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik, seperti amplifikasi, delesi, atau penataan ulang gen. Misalnya, FISH dapat digunakan untuk mendeteksi penataan ulang gen ALK pada kanker paru-paru, membantu mengidentifikasi pasien yang mungkin mendapat manfaat dari terapi target seperti crizotinib. FISH dipilih dibandingkan tes lain ketika lokalisasi perubahan genetik yang tepat di dalam sel penting. Laporan patologi sering kali menggambarkan hasil FISH sebagai positif atau negatif untuk perubahan genetik spesifik yang diuji.

Pengurutan generasi berikutnya (NGS)

Pengurutan generasi berikutnya (NGS) adalah teknik ampuh yang menganalisis beberapa gen secara simultan, mengidentifikasi mutasi, delesi, insersi, dan perubahan genetik lainnya di seluruh genom. NGS sering dipilih ketika profil genetik tumor yang komprehensif dibutuhkan, terutama pada kanker yang mungkin melibatkan beberapa gen. Misalnya, NGS dapat dilakukan pada sampel kanker paru-paru untuk mengidentifikasi mutasi pada EGFR, KRAS, dan gen lainnya secara simultan. Pendekatan komprehensif ini dapat memandu keputusan pengobatan dengan mengidentifikasi semua target terapi potensial. Dalam laporan patologi, hasil NGS dapat mencakup daftar mutasi yang teridentifikasi, beserta informasi tentang kemungkinan dampaknya terhadap kanker dan pilihan pengobatan yang tersedia.

Reaksi berantai polimerase (PCR)

Reaksi berantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR) adalah teknik yang memperbanyak urutan DNA tertentu, sehingga memudahkan pendeteksian mutasi atau perubahan genetik lainnya. PCR sering digunakan saat menguji mutasi tertentu yang diketahui, seperti mutasi BRAF V600E pada melanomaPCR dipilih karena sensitivitas dan kemampuannya mendeteksi sejumlah kecil DNA bermutasi dalam sampel. Dalam laporan patologi, hasil PCR biasanya dilaporkan positif atau negatif untuk mutasi spesifik yang diuji.

Sitogenetika/Kariotipe

Sitogenetika, termasuk kariotipe, adalah studi tentang kromosom dalam sel. Kariotipe melibatkan pewarnaan kromosom dan pemeriksaannya di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi perubahan besar, seperti kromosom yang hilang atau berlebih, atau kelainan struktural, seperti translokasi. Tes ini sering digunakan pada kanker darah, seperti leukemia, di mana perubahan kromosom dapat memiliki implikasi prognostik dan terapeutik yang signifikan. Misalnya, keberadaan kromosom Philadelphia pada leukemia mieloid kronis (LMK) dapat mengindikasikan perlunya terapi target dengan obat-obatan seperti imatinib. Dalam laporan patologi, hasil sitogenetika biasanya dijelaskan berdasarkan kelainan kromosom spesifik yang terdeteksi, dengan detail tentang bagaimana kelainan ini dapat memengaruhi prognosis atau rencana perawatan.

Jenis kanker apa yang diuji untuk biomarker?

Pengujian biomarker sangat penting dalam mendiagnosis dan mengobati berbagai jenis kanker. Meskipun tidak semua kanker memerlukan pengujian biomarker, kanker tertentu lebih mungkin dikaitkan dengan biomarker spesifik yang dapat memberikan informasi berharga tentang perilaku penyakit dan bagaimana responsnya terhadap pengobatan.

Berikut ini adalah contoh jenis kanker yang umumnya menggunakan pengujian biomarker untuk menginformasikan keputusan klinis.

  • Kanker payudaraKanker payudara adalah salah satu kanker paling umum pada wanita. Biomarker yang umum diuji pada kanker payudara meliputi: RE (reseptor estrogen), PR (reseptor progesteron), dan mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2. Misalnya, pasien dengan kanker payudara ER-positif dapat memperoleh manfaat dari terapi hormon yang menargetkan reseptor estrogen.
  • Kanker paru-paruKanker paru-paru merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. Biomarker seperti mutasi EGFR, penataan ulang ALK, dan PD-L1 ekspresi umumnya diuji pada kanker paru-paru. Biomarker ini membantu memandu pengobatan dengan terapi yang ditargetkan, seperti erlotinib untuk mutasi EGFR dan pembrolizumab untuk ekspresi PD-L1 yang tinggi.
  • Kanker kolorektalKanker kolorektal adalah kanker ketiga paling umum di dunia. Biomarker yang diuji pada kanker kolorektal meliputi: KRAS, NRA, SAUDARA LAKI-LAKI mutasi, dan ketidakstabilan mikrosatelit (MSI). Mutasi KRAS, misalnya, dapat memprediksi apakah kanker akan merespons terapi target tertentu.
  • Kanker ovariumKanker ovarium seringkali didiagnosis pada stadium lanjut. Biomarker seperti CA-125, mutasi BRCA1, dan BRCA2 umumnya diuji. Biomarker ini membantu memandu keputusan pengobatan dan memantau kekambuhan.
  • Kanker prostatKanker prostat adalah salah satu kanker paling umum pada pria. Kadar PSA rutin diperiksa untuk mendeteksi kanker prostat. Selain itu, mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 dapat memberikan informasi tentang risiko dan prognosa.
  • Melanoma: Melanoma adalah jenis kanker kulit yang agresif. Biomarker seperti SAUDARA LAKI-LAKI dan NRA Mutasi umumnya diuji. Mutasi BRAF, khususnya mutasi V600E, dapat ditargetkan dengan obat-obatan seperti vemurafenib.
  • limfoma: limfoma adalah kanker sistem imun. Biomarker umum yang diuji pada limfoma meliputi ekspresi protein (misalnya, CD20, CD30, dan BCL2) serta penataan ulang gen MYC. Biomarker ini dapat membantu menentukan jenis limfoma dan memandu pengobatan.
  • Kanker tiroidKanker tiroid umumnya merupakan kanker yang pertumbuhannya lambat, tetapi beberapa jenis kanker bisa lebih agresif. Biomarker yang diuji pada kanker tiroid meliputi: SAUDARA LAKI-LAKI mutasi, penataan ulang RET/PTC, dan kadar tiroglobulin. Mutasi BRAF, misalnya, umumnya ditemukan pada kanker tiroid papiler.
  • Kanker perut (lambung)Kanker lambung merupakan penyebab kematian akibat kanker yang signifikan. Biomarker yang diuji pada kanker lambung meliputi: HER2 ekspresi gen, ketidakstabilan mikrosatelit (MSI), dan mutasi PIK3CA. Kanker lambung HER2-positif dapat merespons terapi target dengan trastuzumab.
  • Kanker pankreasKanker pankreas seringkali terdiagnosis pada stadium lanjut dan memiliki prognosis yang buruk. Biomarker seperti KRAS mutasi, penghapusan CDKN2A, dan hilangnya SMAD4 umumnya diuji. Mutasi KRAS, misalnya, terdapat pada banyak kanker pankreas dan membantu memandu keputusan pengobatan.
  • Leukemia: Leukemia adalah sekelompok kanker darah yang memengaruhi sumsum tulang dan darah. Biomarker dengan nilai prognostik atau prediktif pada leukemia meliputi mutasi pada gen FLT3, NPM1, dan TP53, serta translokasi kromosom seperti kromosom Philadelphia pada leukemia myeloid kronis (CML). Biomarker ini membantu menentukan jenis leukemia, memprediksi seberapa agresif penyakit tersebut, dan memandu pengobatan.
  • Kanker endometriumKanker endometrium adalah jenis kanker rahim yang paling umum. Biomarker yang umum diuji pada kanker endometrium meliputi ketidakstabilan mikrosatelit (MSI), mutasi pada gen PTEN dan PIK3CA, dan estrogen dan progesteron ekspresi reseptor. Biomarker ini dapat memberikan informasi penting tentang jenis kanker endometrium dan memandu keputusan pengobatan.
  • Kanker serviks:Kanker serviks sering dikaitkan dengan infeksi human papillomavirus (HPV)Biomarker yang diuji pada kanker serviks meliputi status HPV, p16 ekspresi protein, dan mutasi PIK3CA. Tes HPV membantu mengidentifikasi keberadaan jenis virus berisiko tinggi yang berkaitan dengan kemungkinan lebih tinggi terkena kanker serviks.
  • Kanker SSP (sistem saraf pusat)Kanker SSP mencakup berbagai tumor yang terjadi di otak dan sumsum tulang belakang. Biomarker yang umum diuji pada kanker SSP meliputi mutasi IDH1/2, status ko-delesi 1p/19q, metilasi promotor MGMT, dan mutasi histon H3. Biomarker ini membantu mengklasifikasikan tumor SSP dan memandu strategi pengobatan.
  • Kanker kandung kemih: Kanker kandung kemih adalah kanker umum yang menyerang sistem kemih. Biomarker yang diuji pada kanker kandung kemih meliputi mutasi FGFR3, HER2 amplifikasi, dan PD-L1 ekspresi. Biomarker ini dapat membantu memandu pengobatan, terutama pada tahap lanjut atau metastasis penyakit.
  • Kanker ginjalKanker ginjal biasanya muncul di korteks ginjal. Biomarker yang umum diuji pada kanker ginjal meliputi mutasi pada gen VHL, PBRM1, dan BAP1, serta ekspresi PD-L1. Biomarker ini dapat membantu memprediksi respons terhadap terapi, termasuk imunoterapi.
  • Tumor stroma gastrointestinal (GIST)Tumor stroma gastrointestinal (GIST) adalah jenis kanker yang terjadi di saluran pencernaan, paling sering di lambung atau usus halus. Pengujian biomarker pada GIST sering kali mencakup pemeriksaan mutasi pada gen KIT, yang terdapat pada sebagian besar kasus. Mengidentifikasi mutasi KIT sangat penting karena membantu memandu pengobatan dengan terapi target seperti imatinib, yang dirancang khusus untuk menghambat protein abnormal yang dihasilkan oleh gen KIT yang bermutasi.

Biomarker kanker umum

Ada ribuan biomarker kanker, dan biomarker baru ditemukan setiap hari. Biomarker dalam laporan Anda akan bergantung pada banyak faktor, termasuk riwayat medis Anda, kondisi genetik yang diketahui, dan jenis kanker spesifik yang diidentifikasi. Berikut ini adalah daftar biomarker yang paling umum diuji dan apa yang dapat diungkapkannya tentang kanker.

KRAS

KRAS adalah gen yang berperan penting dalam mengatur pembelahan sel. Normalnya, KRAS membantu sel tumbuh dan membelah secara terkendali. Namun, mutasi pada KRAS dapat membuat gen tersebut terus aktif, yang menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan kanker. Mutasi KRAS umum terjadi pada kanker kolorektal, paru-paru, dan pankreas. Sejumlah terapi target, seperti sotorasib dan adagrasib, telah disetujui untuk mutasi KRAS.

NRA

NRAS mirip dengan KRAS dan terlibat dalam pertumbuhan dan pembelahan sel. Biasanya, NRAS berfungsi untuk membantu mengatur pertumbuhan dan pembelahan sel. Namun, mutasi pada NRAS dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali, terutama pada melanoma dan beberapa kanker darah. Ada terapi target terbatas untuk mutasi NRAS, tetapi penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan pengobatan yang efektif.

EGFR

EGFR adalah protein reseptor yang membantu sel tumbuh dan membelah. Dalam keadaan normal, EGFR mengatur pertumbuhan sel. Namun, mutasi pada EGFR dapat menyebabkan sel tumbuh tak terkendali, yang menyebabkan kanker. Mutasi EGFR umumnya terlihat pada kanker paru-paru, dan terapi tertarget seperti erlotinib dan gefitinib digunakan untuk mengobati kanker dengan mutasi ini.

ALK

ALK adalah gen yang terlibat dalam perkembangan sistem saraf. Normalnya, ALK membantu mengatur pertumbuhan dan perkembangan sel saraf. Namun, penataan ulang pada gen ALK dapat menyebabkan kanker, terutama kanker paru-paru. Terapi target seperti crizotinib dan alectinib telah dikembangkan untuk mengobati kanker dengan penataan ulang ALK.

ROS1

ROS1 adalah reseptor tirosin kinase yang terlibat dalam pertumbuhan sel. Biasanya, ROS1 membantu mengatur pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel. Namun, penataan ulang pada gen ROS1 dapat menyebabkan perkembangan kanker, terutama pada kanker paru-paru. Terapi yang ditargetkan seperti crizotinib efektif dalam mengobati kanker dengan penataan ulang ROS1.

RET

RET adalah gen yang terlibat dalam pensinyalan dan pertumbuhan sel. Normalnya, RET membantu mengatur berbagai proses seluler, termasuk perkembangan dan diferensiasi. Namun, mutasi atau penataan ulang pada gen RET dapat menyebabkan kanker, terutama pada kanker tiroid dan paru-paru. Terapi target seperti selpercatinib dan pralsetinib mengobati kanker dengan perubahan RET.

MET

MET adalah reseptor tirosin kinase yang berperan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel. Dalam keadaan normal, MET membantu sel merespons sinyal pertumbuhan. Namun, amplifikasi atau mutasi gen dalam MET dapat menyebabkan kanker, terutama pada kanker paru-paru dan ginjal. Terapi yang ditargetkan seperti crizotinib dan capmatinib mengobati kanker dengan perubahan MET.

SAUDARA LAKI-LAKI

BRAF adalah gen yang terlibat dalam pengiriman sinyal ke dalam sel yang mendorong pertumbuhan. Biasanya, BRAF membantu mengatur pertumbuhan sel dengan mengirimkan sinyal dari permukaan sel ke nukleus. Namun, mutasi pada BRAF, terutama mutasi V600E, dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan kanker. Mutasi BRAF umumnya terlihat pada melanoma, kolorektal, dan kanker lainnya. Terapi yang ditargetkan seperti vemurafenib dan dabrafenib mengobati kanker dengan mutasi BRAF.

Reseptor estrogen (ER)

Reseptor estrogen (ER) adalah protein yang mengikat estrogen, membantu sel tumbuh. Normalnya, ER mengatur pertumbuhan sel sebagai respons terhadap estrogen. Namun, pada kanker payudara dengan ER-positif, keberadaan ER dapat mendorong pertumbuhan kanker sebagai respons terhadap estrogen. Terapi target seperti tamoksifen memblokir reseptor estrogen, mencegahnya memicu pertumbuhan kanker.

Reseptor progesteron (PR)

Reseptor progesteron (PR) adalah protein yang mengikat progesteron dan terlibat dalam pertumbuhan sel. Biasanya, PR membantu mengatur pertumbuhan sel sebagai respons terhadap progesteron. Namun, pada kanker payudara PR-positif, keberadaan PR dapat mendorong pertumbuhan kanker sebagai respons terhadap progesteron. Terapi hormonal seperti tamoxifen juga memengaruhi kanker PR-positif dengan menghalangi reseptor hormon.

HER2

HER2 adalah gen yang mengkode protein yang terlibat dalam pertumbuhan dan perbaikan sel. Biasanya, HER2 membantu sel tumbuh dan memperbaiki diri. Namun, ketika gen HER2 diperkuat, hal itu menyebabkan ekspresi protein HER2 yang berlebihan, yang mendorong pertumbuhan kanker. Amplifikasi HER2 umumnya terlihat pada kanker payudara. Terapi yang ditargetkan seperti trastuzumab (Herceptin) mengobati kanker HER2-positif dengan menghalangi protein HER2.

BRCA1 dan BRCA2

BRCA1 dan BRCA2 adalah gen yang membantu memperbaiki kerusakan DNA. Biasanya, gen ini terlibat dalam perbaikan DNA dan menjaga stabilitas genetik. Namun, mutasi pada BRCA1 atau BRCA2 dapat meningkatkan risiko kanker payudara, ovarium, dan kanker lainnya. Inhibitor PARP seperti olaparib adalah terapi yang ditargetkan untuk mengobati kanker dengan mutasi BRCA dengan memanfaatkan ketidakmampuan sel kanker untuk memperbaiki kerusakan DNA.

PIK3CA

PIK3CA adalah gen yang terlibat dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel. Normalnya, PIK3CA berperan dalam jalur persinyalan yang mengatur pertumbuhan sel. Namun, mutasi pada PIK3CA dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan kanker, terutama pada kanker payudara. Terapi target seperti alpelisib digunakan untuk mengobati kanker dengan mutasi PIK3CA.

NTRK

Gen NTRK terlibat dalam pertumbuhan sel saraf dan membantu mengatur pertumbuhan serta perkembangannya. Namun, fusi yang melibatkan gen NTRK dapat menyebabkan perkembangan kanker di berbagai jaringan. Terapi bertarget seperti sunitinib efektif mengobati kanker dengan fusi gen NTRK.

HDI

Gen IDH mengkode enzim yang terlibat dalam metabolisme sel. Normalnya, enzim IDH membantu mengubah nutrisi menjadi energi bagi sel. Namun, mutasi pada IDH1 dan IDH2 dapat menyebabkan produksi metabolit abnormal yang berkontribusi terhadap perkembangan kanker, terutama pada glioma dan beberapa kanker darah. Terapi target seperti ivosidenib dan enasidenib digunakan untuk mengobati kanker dengan mutasi IDH dengan menghambat enzim yang bermutasi.

FGFR

Gen FGFR mengkode protein yang terlibat dalam pertumbuhan dan pembelahan sel. Biasanya, protein FGFR membantu mengatur berbagai proses seluler, termasuk pertumbuhan dan diferensiasi sel. Namun, mutasi dan fusi pada gen FGFR dapat menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan kanker, terutama pada kanker kandung kemih. Terapi yang ditargetkan seperti erdafitinib digunakan untuk mengobati kanker dengan perubahan FGFR dengan menghambat aktivitas protein FGFR.

PTEN

PTEN adalah gen penekan tumor yang membantu mengatur pertumbuhan sel dengan mencegah sel tumbuh dan membelah. Gen ini bertindak sebagai penghambat pertumbuhan sel, memastikan sel membelah hanya ketika diperlukan. Namun, hilangnya fungsi PTEN dapat menghilangkan kendali regulasi ini, yang menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan perkembangan kanker. Hilangnya PTEN diamati pada berbagai jenis kanker, dan meskipun saat ini belum ada terapi yang ditargetkan secara khusus untuk hilangnya PTEN, keberadaannya dapat memengaruhi keputusan pengobatan dan pendekatan keseluruhan terhadap manajemen kanker.

KIT

KIT mengkode reseptor tirosin kinase yang berperan penting dalam pertumbuhan dan diferensiasi sel. Normalnya, KIT membantu mengatur perkembangan jenis sel tertentu, termasuk sel-sel di saluran pencernaan. Namun, mutasi pada gen KIT dapat membuatnya tetap aktif, yang menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan perkembangan tumor stroma gastrointestinal (GIST). Terapi target, seperti imatinib, efektif mengobati GIST dengan mutasi KIT dengan menghambat protein KIT yang abnormal.

PD-L1

PD-L1 (Programmed Death-Ligand 1) adalah protein yang berperan dalam regulasi sistem imun. Normalnya, PD-L1 membantu melindungi sel-sel sehat dari serangan sistem imun. Namun, pada kanker, kadar PD-L1 yang tinggi pada sel tumor dapat membantu mereka menghindari sistem imun dengan mematikan serangan sel T. Ekspresi PD-L1 yang tinggi sering dikaitkan dengan respons yang lebih baik terhadap imunoterapi, karena penghambatan jalur PD-L1 dapat memulihkan kemampuan sistem imun untuk menargetkan dan menghancurkan sel kanker. Obat-obatan seperti pembrolizumab dan nivolumab menargetkan PD-L1 pada berbagai kanker, termasuk kanker paru-paru.

Perbaikan ketidakcocokan (MMR)

Gen perbaikan ketidakcocokan (MMR) memperbaiki kesalahan yang terjadi selama replikasi DNA. Biasanya, gen MMR membantu menjaga integritas materi genetik dengan mengoreksi kesalahan dalam DNA. Namun, kekurangan MMR dapat menyebabkan ketidakstabilan mikrosatelit (MSI), yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker tertentu, termasuk kanker kolorektal. Obat imunoterapi seperti pembrolizumab digunakan untuk mengobati kanker dengan MSI dengan meningkatkan kemampuan sistem imun untuk menargetkan sel kanker.

Beban mutasi tumor (TMB)

Beban mutasi tumor (TMB) mengacu pada jumlah mutasi pada DNA tumor. TMB yang lebih tinggi sering kali menunjukkan bahwa tumor memiliki banyak perubahan genetik, yang dapat membuatnya lebih mudah dikenali oleh sistem imun. Tumor dengan TMB tinggi biasanya lebih responsif terhadap imunoterapi, karena peningkatan jumlah mutasi memudahkan sistem imun untuk mengidentifikasi dan menyerang sel kanker. Imunoterapi seperti pembrolizumab digunakan untuk mengobati kanker dengan TMB tinggi.

A+ A A-